Rabu, 28 Okt 2026 - :
3 Okt 2026 - 19:21 | 78 Views | 0 Suka

Miris! Sungai Penuh Punya Hotel, Mengapa Bimtek BPD Harus Ke Jambi? Habiskan Anggaran Ratusan Juta ?

3 mnt baca

SUNGAI PENUH – Bimtek BPD se-Kota Sungai Penuh di Grand Hotel Jambi pada 23-26 September 2026 menyedot anggaran hampir Rp 1 miliar. Publik langsung bertanya, kenapa panitia harus bawa 325 peserta ke Jambi? Kenapa panitia tidak gelar kegiatan di Sungai Penuh saja?

Pertanyaan lokasi ini paling masuk akal. Sungai Penuh punya banyak hotel dan aula pemerintah. Aroma Hotel, Surya Hotel, dan Gedung Nasional mampu tampung ratusan orang. Pemerintah Kota juga terus teriak efisiensi. Namun panitia tetap pilih Jambi.

Hitung-hitungan: Jambi Bikin Anggaran Bengkak

Lembaga Pelatihan Indonesia (LAPIN) patok kontribusi Rp2,5 juta per orang. Satu desa kirim 5 orang, jadi 1 desa bayar Rp12,5 juta. Kalau 65 desa ikut, total kontribusi tembus Rp812,5 juta.

Itu baru kontribusi. Peserta juga butuh biaya perjalanan dinas. Satu orang butuh Rp2 juta untuk transport dan uang saku. Lima orang butuh Rp10 juta per desa. Untuk 65 desa, biaya perjalanan tembus Rp650 juta.

Total jenderal: Rp812,5 juta + Rp650 juta = Rp1,4625 miliar. Semua uang ini keluar dari APBDes.

Kalau panitia gelar Bimtek di Sungai Penuh, negara hemat Rp650 juta biaya perjalanan. Peserta tidak perlu sewa bus, tidak perlu uang saku luar daerah. Uang itu bisa untuk bangun jalan desa atau BUMDes.

Kontribusi Rp12,5 Juta Diduga Tabrak Perwako

Trenz.id ungkap fakta lain. Perwako Kota Sungai Penuh Pasal 15 ayat (2) huruf b atur batas kontribusi Bimtek maksimal Rp10 juta per desa. Diduga LAPIN patok Rp12,5 juta per desa. Artinya, satu desa kelebihan bayar Rp2,5 juta.

Total kelebihan 65 desa mencapai Rp162,5 juta. Trenz.id akan minta salinan Perwako resmi ke PPID dan Bagian Hukum. Trenz.id juga masih minta penjelasan dari Kadis PMD Zetriadi Delfi, apa dasar patok Rp2,5 juta per orang.

Skema Kamar: Proposal 1 Orang 1 Kamar, Realita 1 Kamar Isi 3 Orang

Proposal sebut 1 orang 1 kamar. Sumber peserta yang ikut kegiatan sebut fakta berbeda.

“Tidak dijelaskan, karena anggarannya satu paket tidak disebut satu orang. Masalahnya ikut dalam Rp2.500.000,” kata sumber BPD yang minta identitasnya Trenz.id rahasiakan.

“Ada AC satu tempat tidur besar untuk dua orang. Di Grand kalau diisi tiga orang,” kata sumber itu lagi.

Trenz.id cek harga Grand Hotel Jambi di Traveloka. Kamar standar hanya Rp334 ribu sampai Rp600 ribu per malam.

Grand Hotel hanya punya 72 kamar. Kalau 1 kamar isi 3 orang selama 4 malam, biaya hotel per orang cuma Rp533 ribu. Peserta bayar Rp2,5 juta. Selisih Rp1,96 juta per orang lari ke mana? http://Trenz.id masih butuh RAB, invoice hotel, dan daftar penghuni kamar untuk jawab pertanyaan ini.

Sungai Penuh Punya Hotel, Kenapa Harus ke Jambi?

Ini pertanyaan paling keras. Panitia beralasan Bimtek butuh suasana baru agar peserta fokus. Alasan itu lemah. BPD butuh materi pengawasan Dana Desa, bukan butuh liburan ke Jambi.

Sungai Penuh punya fasilitas. Aroma Hotel punya ballroom 300 orang. Harga kamar di Sungai Penuh cuma Rp350 ribu per malam, lebih murah dari Grand Hotel Jambi. Peserta bisa pulang-pergi dari rumah, tidak perlu menginap. Pemerintah bisa hemat ratusan juta.

Instruksi Presiden Prabowo soal efisiensi melarang perjalanan dinas luar daerah yang tidak perlu. Bimtek di Jambi jelas masuk kategori perjalanan tidak perlu.

Trenz.id Tunggu Klarifikasi Resmi

http://Trenz.id sudah kirim surat resmi ke PPID Kota Sungai Penuh. http://Trenz.id minta Perwako, RAB Bimtek, nota dinas BPD, dan bukti pembayaran hotel.

Trenz.id juga buka ruang hak jawab untuk Dinas PMD, LAPIN, Kades, dan manajemen Grand Hotel Jambi. Publik butuh jawaban jujur: kenapa harus di Jambi, kenapa tidak di Sungai Penuh, dan ke mana selisih anggaran Rp1,96 juta per orang itu mengalir. (Medio)

 

Penulis Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan
Beranda
Bagikan
Lainnya
0%