
JAKARTA – Rekam jejak Brigjen Pol. Dr. Hengki Haryadi, S.I.K., M.H., kembali menjadi sorotan. Perwira tinggi Polri yang dua kali menangkap Hercules di Jakarta itu kini mendapat amanah baru sebagai Kapolda Papua Barat Daya.
Hengki dikenal sebagai perwira reserse dengan pengalaman panjang dalam menangani kasus besar. Salah satu catatan paling menonjol dalam kariernya yakni dua kali berhadapan langsung dengan Hercules, tokoh yang lama dikenal dalam kasus premanisme di Ibu Kota.
Hengki pertama kali menangkap Hercules pada 2013. Saat itu, Hengki masih berpangkat AKBP dan menjabat Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat.
Ia memimpin penangkapan Hercules bersama sejumlah anggota kelompoknya dalam kasus pemerasan dan perlawanan terhadap petugas.
Lima tahun kemudian, Hengki kembali berhadapan dengan Hercules. Saat itu, Hengki menjabat Kapolres Metro Jakarta Barat. Polisi kembali menangkap Hercules terkait dugaan penguasaan lahan secara ilegal dan intimidasi di kawasan Kalideres, Jakarta Barat.
Dua penanganan kasus tersebut memperkuat reputasi Hengki sebagai perwira yang berpengalaman di bidang reserse.
Hengki memulai karier kepolisian setelah lulus Akpol 1996. Ia juga merupakan alumni SMA Taruna Nusantara. Kariernya dimulai dari berbagai penugasan, termasuk di Polres Dili pada 1997, Lampung, hingga jajaran Polda Metro Jaya.
Kini Pimpin Polda Papua Barat Daya
Polri kini memberikan tanggung jawab baru kepada Hengki. Melalui Surat Telegram Nomor ST/1877/VIII/KEP./2026 tertanggal 30 Agustus 2026, Polri menunjuk Hengki sebagai Kapolda Papua Barat Daya.
Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo menandatangani surat tersebut atas nama Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Hengki menggantikan Brigjen Pol. Yulius Audie Sonny Latuheru. Polri selanjutnya menugaskan Yulius sebagai Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri.
Serah terima jabatan dijadwalkan berlangsung pada 2 September 2026 di Mabes Polri.
Hadapi Tantangan di Provinsi Termuda
Papua Barat Daya memiliki karakter wilayah yang berbeda jauh dari Jakarta. Provinsi ini terbentuk dari pemekaran Papua Barat pada akhir 2022.
Wilayah Papua Barat Daya mencakup Kota Sorong, Kabupaten Sorong, Raja Ampat, Maybrat, Tambrauw, dan Sorong Selatan.
Kawasan tersebut memiliki potensi sumber daya alam dan pariwisata yang besar. Namun, wilayah itu juga menghadapi tantangan keamanan, pembangunan, serta kondisi geografis yang kompleks.
Pengalaman panjang Hengki di bidang reserse menjadi modal penting dalam menjalankan tugas barunya.
Penugasan ini sekaligus menempatkan Hengki pada tanggung jawab strategis untuk menjaga keamanan dan mendukung stabilitas pembangunan di Papua Barat Daya.
Mutasi tersebut menjadi bagian dari rotasi besar di tubuh Polri. Surat Telegram 30 Agustus 2026 mencatat pergeseran sebanyak 344 perwira tinggi dan menengah.
Kini, publik menanti kiprah Hengki Haryadi dalam memimpin Polda Papua Barat Daya. Pengalamannya menangani berbagai kasus besar di Jakarta akan menghadapi tantangan baru di ujung timur Indonesia. (Medio)
Tinggalkan Balasan